Xpression Galau
Sabtu, 07 Januari 2012
dahulu kau buat aku menginginkanmu
perlahan kau hadir di setiap lembar cerita hidupku
menhabiskan waktu yang berjalan bersamaku
hingga tumbuh rasa yang tak pernah bisa dijelaskan olehku ataupun orang lain
hingga ku seperti ikut dengan irama detak jantungmu
bergantung padamu
kini setelah kau dapatkanku
kau buang aku dengan percuma
lalu kembali melangkah dengan orang lain
dan dia adalah sahabatku
sungguh pelampiasanmu membuatku mati tergulung sakit
Luka yang memahat
Luka yang begitu menusuk
Luka yang yang menghujam jantungku
Tapi tidak ada yang tahu bahwa aku kecewa dalam cerita...
Sampai untuk berpikir tentang cinta
Dengan hati bukan mata rasakan cinta
Untuk kehilangan akal sehat
Dan untuk membuat aku tenggelam...
Tenggelam dalam kesedihan
Tenggelam dalam kepedihan dan kehancuran
Dengan semua janji-janji busuk (jambu) mu
Dengan semua Janji-janji palsu mu
Membuat sayap ini patah dan mati ...
Aku menangis meratapi takdir
Merasa seakan dunia ini tak berarti lagi
Dan kini hanya kesedihan, kekecewaan yang menemaniku
Cinta ini sungguh aku tidak mengerti...
tahukah kau hati akan senang dimana kala setitik cinta menyentuhnya,membelai halus keningnya, mendengarkan keluh kesahnya tentang hidup...
tapi hatupun akan sedih dimana kala setitik cinta yang di berikan untuknya kering karena yang memberikan cinta, memberi cinta pula pada orang lain...
sakitnya takkan terbalas dengan kata "maaf" hanya akan ada kata "menjauh" dan pasrah
yang akan terucap dari bibirnya
hati beranjak pergi
sepanjang hari berjuang menemui sang intan
karena sang intan sedang berkabut rindu
lama berjalan dteduhan sang mentari
hinggap peluh yang manyapa
di susul pelu lain yang ikut menyapa
kini peluh hilang sudah
giliran jenuh yang datang
mengundang hati yang sedang pilu
setiba hati dipersandaran sang intan
tak disangka intan yang merindu kini
telah dibawa orang
hati semakin pilu
lara hati tak kunjung habis
oleh saya sendiri
sepanjang hari berjuang menemui sang intan
karena sang intan sedang berkabut rindu
lama berjalan dteduhan sang mentari
hinggap peluh yang manyapa
di susul pelu lain yang ikut menyapa
kini peluh hilang sudah
giliran jenuh yang datang
mengundang hati yang sedang pilu
setiba hati dipersandaran sang intan
tak disangka intan yang merindu kini
telah dibawa orang
hati semakin pilu
lara hati tak kunjung habis
oleh saya sendiri
Puisi patah hati karya sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Titik-titik air mataku mengalir deras tak terbendung
Ketika lengan sentuhkan pensil untuk sebuah kertas
tercoret tulisan puitis,
"Taukah kau isi hatiku",,,?
Pernahkah kau pikirkan aku,,,?
Hingga tegamu lari dan berpaling dari pengharapanku
Dengan alasan cinta, walu untuk cinta,
kau tak pernah mau menyapa
lewat goresan tinta merah
kau buat puisi indah untukku
Puisi perpisahan...
dari jadilah.com
Langganan:
Postingan (Atom)