
naik ke gunung serentak kaki, kau tendang dengan satu kaki
mungkin hanya ungkapan ini yang dapat aku untikan padamu
karena hasrat hati ini telah kau cabik begitu dalam
ku hanya bisa berkata tak mampu berbuat
sungguh noda yang kau beri tak mampu tertutup wajah yang polos
tangan yang menutup kesedihanku kini mulai terjatuh tak bernyawa
suara kaki itu masih teringat jelas dikepalaku saat kau memutuskan untuk kembali dengannya dan meninggalkan persandanran hatimu padaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar